Rahina Soma Ribek, Hari Pangan setelah Turunnya Ilmu Pengetahuan

  • 09 Desember 2019
  • Dibaca: 155 Pengunjung
Rahina Soma Ribek, Hari Pangan setelah Turunnya Ilmu Pengetahuan

KIM SANGEH-Dua hari setelah Hari Raya Saraswati, umat Hindu khususnya di Bali merayakan hari Soma Ribek. Hari ini jatuh pada Soma (Senin) Pon, Wuku Sinta. Hari ini juga dimaknai sebagai ungkapan syukur umat Hindu di Bali atas anugerah pangan yang berlimpah.

Penyusun Kalender Bali Gede Marayana mengatakan, perayaan Soma Ribek memang tidak terlepas dari perayaan Saraswati. Sebab Soma Ribek adalah hari bagaimana pengetahuan bisa digunakan untuk kemakmuran bersama.

Lalu apa hubungannya ilmu pengetahuan dengan kemakmuran? Menurutnya ilmu pengetahuan itu sumber kemakmuran. Tanpa pengetahuan manusia akan menjadi bodoh, dari kebodohan manusia akan sengsara. Sebaliknya kalau sudah dibekali oleh pengetahuan yang bajik dan bijak, manusia menjadi cerdas dan pintar.

Dari ilmu pengetahuan manusia bisa mengolah dan meracik sesuatu menjadi hal yang berguna untuk diri sendiri dan orang lain. Pun demikian dengan para petani. Marayana menilai tanpa dibekali oleh pengetahuan yang cukup, petani tidak akan menghasilkan panen yang maksimal. Maka dari itu berawal dari hari pemujaan Saraswati, umat Hindu Bali kemudian merayakan Soma Ribek.

“Kita ambil dari perayaan Saraswati. Saraswati kan turunnya Ilmu Pengetahuan. Setelah mendapat ilmu pengetahuan, manusia harus memanfaatkan ilmu pengetahuan itu dengan bijaksana. Untuk apa? Jelas, selain untuk mampu membedakan baik dan benar, manusia harus mampu menggunakan pengetahuan itu untuk pangan, sandang dan papan. Dan mendatangkan manfaat untuk orang banyak ,” ujar Gede Marayana,

Pria yang berdomisili di Jalan Gajah Mada, Tegal Mawar No 2 Singaraja, ini menyebutkan pada hari Soma Ribek, Dewi Sri menganugerahkan amertha tri upa boga. Yakni berupa amertha pangan kinum (boga), amertha berupa sandang (upa boga) dan amertha berupa pangan (pari boga) kepada semua makhluk di dunia.

“Tentu maknanya agar manusia harus kuat dari sisi pangan. Bisa dikatakan hari Soma Ribek merupakan hari pangan versi Hindu. Jika kekurangan pangan manusia akan kelaparan. Jika kelaparan, lalu bagaimana melakukan swadharma?” imbuhnya.

Jika ditinjau dari sudut wariga, Marayana merinci bahwa soma (Senin) Dewanya adalah Sang Hyang Wisnu, perwujudannya sebagai Uddaka (air), menjadi amertha pawitra. Sedangkan pancawara pon dewanya adalah Sang Hyang Mahadewa, sebagai perwujudan apah  (merutha) menjadi amertha kundalini. Sementara Wuku Sinta dewanya adalah Sang Hyang Yama sebagai perwujudan dari api (agni). “Ketiga amertha inilah yang dibutuhkan oleh semua makhluk hidup,” bebernya.

Menurutnya saat Soma Ribek,Sanga Waranya adalah Dangu. Kemudian Dasa Waranya adalah Pati. Bahkan menariknya, sejak Redite (Minggu) Sinta hingga Buda Sinta (Rabu) Dangu berturut-turut selama empat kali.“Jika diartikan Dangu ini artinya antara gelap dan terang. Sedangkan pati adalah dinamis. Jadi manusia saat ini (Soma Ribek) sedang mengalami pergerakan yang dinamis untuk bisa bergerak dari sesuatu yang gelap menuju terang. Gelap bisa dimaknai sebagai kebodohan, kemudian terang bisa dimaknai sebuah pengetahuan. Tentu maknanya agar mampu mengusasi ilmu pengetahuan agar bisa terlepas dari belenggu kebodohan,” katanya. (006KIMSGH)

  • 09 Desember 2019
  • Dibaca: 155 Pengunjung

Artikel Lainnya

Cari Artikel