‘Tak Boleh Membaca’ di Hari Raya Saraswati, Mitos atau Keharusan?

  • 09 Desember 2019
  • Dibaca: 425 Pengunjung
 ‘Tak Boleh Membaca’ di Hari Raya Saraswati, Mitos atau Keharusan?

KIM SANGEH-

Hari Raya Saraswati merupakan hari raya yang jatuh setiap enam bulan sekali pada kalender Bali, tepatnya pada Saniscara (Sabtu) Umanis Watugunung. Di penghujung tahun 2019 ini, Hari Raya Saraswati jatuh pada Sabtu (7/12/2019). Bagi umat Hindu, Hari Raya Saraswati merupakan hari untuk merayakan turunnya ilmu pengetahuan, yang dilambangkan oleh Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan. Di hari ini, para umat Hindu akan melakukan persembahyangan dan menghaturkan banten di atas tumpukan sumber kesusastraan, seperti buku  dan lontar. Penghaturan banten di atas tumpukan buku ini menyebabkan buku-buku tersebut tak bisa dibaca, yang menimbulkan budaya atau mitos ‘tak boleh membaca saat Hari Saraswati’. 
 
Di satu sisi, memang benar budaya ini terjadi karena buku-buku tersebut sedang diperlakukan sakral sehingga tak boleh ‘diganggu’ pada hari turunnya ilmu pengetahuan. Di hari suci ini, Dewi Saraswati yang menjadi dewi ilmu pengetahuan malinggih di sumber-sumber sastra tersebut. Namun di balik itu, ada juga makna filsafat yang lebih mendalam yang menjelaskan budaya ini.
Sakral
 
Yang pertama, dilihat dari sisi sejarah Hindu, umat Hindu pada zaman dahulu tak sembarangan boleh dan bisa memahami bacaan lontar atau Weda yang menjadi kitab suci agama Hindu. Pemahaman terhadap teks kesusastraan hanya  terbatas pada masyarakat yang terpelajar. Maka, masyarakat biasa yang tak bisa atau boleh membacanya, menganggap buku atau lontar kesusastraan sebagai barang yang sakral. 
 
“Tak seperti sekarang, kita selesai membaca buku langsung ditaruh sembarangan. Bayangkan orang zaman dulu yang tak bisa membaca, mereka menganggap lontar adalah barang sakral yang tak bisa diperlakukan sembarangan. Maka dari itu, di Hari Saraswati ini kita memperlakukan buku sebagai barang sakral,” ujar Dr Putu Sabda Jayendra SPdH MPdH, dosen agama Hindu Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional. 
 
Menghindari Emosi
 
Ya, menghindari emosi. Terkadang, saat membaca buku, pembaca merasakan suatu emosi tertentu, baik itu emosi yang bersifat positif atau negatif. Yang berbahaya adalah, saat emosi tersebut berupa emosi negatif, maka seseorang cenderung akan berpikiran buruk, bahkan hingga mengeluarkan kata-kata umpatan, yang tentu saja tidak dianjurkan di hari suci, di depan sastra suci pula. Dengan logika ini, maka sebenarnya juga tak dianjurkan untuk membaca, termasuk membaca melalui perangkat elektronik meskipun yang disajikan upacara banten hanya buku-buku dan lontar saja.
 
“Kalau untuk menyepikan diri memang sebaiknya semua disenyapkan, apalagi media sosial. Media sosial itu kan rentan hujatan. Padahal, tulisan itu wahana untuk menyampaikan ilmu yang bisa digunakan manusia untuk menjadi makhluk utama, bukan untuk meboye apalagi saling hujat,” lanjut alumnus Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar ini. 
 
Tak Membaca, Tak Menulis
 
Tak hanya tak dianjurkan untuk membaca selama perayaan Hari Raya Saraswati, namun hal ini juga berlaku bagi kegiatan menulis. Dijelaskan oleh Putu Sabda, hal ini ada kaitannya dengan sistem penulisan lontar pada jaman dulu. “Orang dulu kan menulis sesuatu di lontar. Nah, kalau sekalinya ada salah menulis, itu lontarnya langsung dibejek lalu dibuang, ulang dari awal lagi. Itu istilahnya ‘membunuh aksara’, yang juga tidak patut dilakukan ketika ilmu pengetahuan dianugerahkan. Kalau jaman sekarang istilahnya men-delete tulisan,” jelasnya. 
 
Lalu, dengan berbagai penjelasan tersebut, kapan anjuran ‘tak membaca’ ini berakhir? Di antara banyaknya anggapan bahwa anjuran ini berlaku seharian penuh, ada pula yang mengambil batas waktu persembahyangan setelah jam 12 siang sebagai batas. Namun, di sore hari, umat sudah boleh kok, membaca atau menulis lagi. “Biasanya, di sore atau malam hari ada yang namanya ‘malam sastra’, ini tujuannya untuk berdiskusi atau dharma tula, membahas filsafat-filsafat pengetahuan dan filsafat mengenai Saraswati itu sendiri. Di kampus-kampus biasanya melakukan hal itu. Jadi sekitar jam 7 itu ada persembahyangan dilanjutkan dengan dharma tula,(006KIMSGH)
  • 09 Desember 2019
  • Dibaca: 425 Pengunjung

Artikel Lainnya

Cari Artikel