NYEKAH

  • 19 Juni 2019
  • Dibaca: 89 Pengunjung
NYEKAH

KIM SANGEH-Nyekah (atau disebut juga dengan Nyekar) adalah upacara yang bertujuan untuk memutuskan ikatan atma roh leluhur dari unsur Panca Maha Butha dan Panca Tan Matra dalam rangkaian dari upacara atma wedana dimana

    • Ngulapin di Segara, mohon ijin Ida Bethara Baruna sebagai penguasa laut untuk melanjutkan upacara Pitra Yadnya.
    • Ngajum Sekah dengan membuat simbol Panca Tan Matra dalam bentuk Puspa Lingga Sarira.
    • Ngaskara Sekah yaitu mendak dan mensucikan Puspa Lingga Sarira tersebut.
    • Narpana Sekah dengan menghaturkan sesajen yadnya kepada atman yang sudah disucikan.
    • Ngeseng atau mapralina sekah dilaksanakan dengan membakar Puspa Lingga sebagai simbol menghilangkan Panca Tan Matra dengan tujuan agar atma dapat dengan damai menuju khayangan / swah loka, tidak lagi terikat dengan keduniawian.
    • Nganyut Sekah setelah dilakukan upacara mapralina sebagai kelanjutan dari membuang panca tan matra serta mensucikan atma dengan air sungai suci yang bermuara ke laut, sehingga laut dapat dipandang sebagai perwakilan ketujuh sungai sapta gangga tersebut.
Setelah Nyekah, ikatan atma sudah terbebas dari Panca Maha Butha dan panca tan matra, sehingga yang masih melekat dan dipertanggungjawabkan oleh atman ke hadapan Hyang Widhi adalah karma wasana, yaitu baik buruknya karma / perbuatan (Subha Karma dan Asubha Karma) sewaktu masih hidup.
 
Kondisi Karma Wasana inilah yang menentukan baik buruknya kehidupan dimasa yang akan datang setelah berinkarnasi yaitu samsara dengan lahir kembali sebagai manusia ke dunia ini.

Beberapa istilah dan penggunaan sarana yadnya dalam nyekah ini disebutkan dalam beberapa daftar simbolisasi dan istilah - istilah ritual dalam upacara ngaben :


  • Sekah - Tunggal, pangawak atau perwujudan sarira orang yang diabenkan itu dalam wujud yang lebih halus. (Apabila sekah - tungggal itu berisi abu tulang sang mati, disebut sekah asti).
  • Penggunaan batang tebu berwarna hitam yang telah dikupas kulitnya untuk menghaluskan / nguyeg sekah (simbol orang yang diaben), bermakna
    • pembersihan / penyucian dan persembahan agar leluhur yang diupacarai (diaben) menjadi bersih/suci sehingga diharapankan dapat diterima di sisi Tuhan
    • sedangkan bagi keluarga yang ditinggalkan agar diberi kekuatan lahir dan batin.
Sehingga dengan adanya tahapan dalam proses nyekah ini, di Bali khususnya bagi umat Hindu tidak ada lagi tradisi nyekar ke kuburan untuk menabur bunga bagi orang yang telah meninggal dunia.

Sebagai rasa bhakti kita pada leluhur maka lewat Upacara Pitra Yadnya ( Nyekah Massal) ini diharapkan semoga kita sebagai generasi penerus mempunyai rasa bhakti yang tulus ikhlas, hingga nanti kita diberkahi kesehatan, kebahagiaan dan kesejahteraan dalam hidup ini.

Sekilas tentang Upacara Nyekah ini yang kami ambil dari berbagai sumber,

Upacara Pitra Yadnya
Upacara Ngalinggihang Dewa Pitara

 Latar belakang dan pengertian.
Melaksanakan upacara yadnya termasuk di dalamnya upacara Pitra Yadnya adalah merupakan kewajiban bagi setiap umat Hindu. Upacara Pitra Yadnya terdiri dari:

Upacara Sawa Wedana
bermakna mengembalikan unsur- unsur Panca Maha Bhuta (Sthula sarira) dan menyucikan
atma orang yang telah meninggal) dunia.

Upacara Atma Wedana
bermakna menyucikan suksma sarira dan atma sebagai kelanjutan dari upacara Sawa Wedana. Upacara Ngalinggihang Dewa Pitara (Dewa Hyang) dapat dilaksanakan berupa menstanakan kembali atma (roh suci) yang diyakini telah mencapai “Atmasiddha dewata”.di Sanggah Kamulan (Pemerajan) atau Pura Kawitan (Pura Leluhur).

Tujuan dan fungsi upacara.
Upacara Ngalinggihang Dewa Pitara (Menstanakan Dewa Hyang/ Atma leluhur diyakini telah suci) bertujuan untuk menjalin bhakti keturunan atau santana dengan para leluhur di samping juga melalui para leluhur umat manusia dapat lebih mendekatkan dirinya kepada Sang Hyang Widhi.

Adapun fungsi upacara pemujaan kepada para leluhur ini adalah sebagai sarana supaya para leluhur dapat memberikan perlindungan dan pengayoman kepada keturunannya, di samping untuk dapat menghubungkan umat manusia kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Tata Pelaksanaan.
Rangkaian upacara
Setelah melaksanakan upacara Atma Wedana, dilanjutkan pula dengan upacara Nyegara Gunung/ Nyegara Giri atau Majar- ajar ke laut dan ke gunung.

Upacara selanjutnya adalah menstanakan atau Ngalinggihang Dewa Pitara atau Dewa Hyang dengan rangkaian sebagai berikut
Nuntun dari pura Dalem (Kahyangan Tiga, Segara atau Pura Dalem Puri Besakih.
Dilanjutkan dengan upacara menstanakan Ngalinggihang di Sanggah Kamulan (Pamerajan) atau Pura Kawitan (leluhur).

Penjelasan :

Bagi yang nuntun di pura Dalem (Kahyangan Tiga)
Pertama melaksanakan upacara mempersembahkan sesajen (ayaban) ke hadapan Ida Bhatara di pura Dalem (Siwa). Selanjutnya pimpinan upacara (Pinandita atau. Pandita) memohon supaya leluhur keluarga yang bersangkutan (yang memohon) diperkenankan disthanakan pada Sanggah Kamulan (Pamerajan), Pura Kawitan atau pura leluhur.
Sarana yang dipergunakan adalah “Daksina palinggih” yang kemudian dilanjutkan dengan upacara Pradaksina mengelilingi palinggih Pura Dalem tiga kali. Sebelum upacara ini dilaksanakan terlebih dahulu dipersembahkan Segehan Agung dengan “penyambleh ayam Hitam”. Dewa Pitara (Dewa Hyang kemudian diiring menuju Sanggah Kamulan (Pemerajan), Pura Kawitan atau Pura Leluhur untuk disthanakan.

Bagi yang memilih nuntun dari segara rangkaian upacaranya hampir sama dengan menuntun di pura Dalem (Kahyangan Tiga) dengan tambahan mapekelem (persembahan sesajen yang dilabuh ke laut) berupa sajen suci hitam, itik hitam dan salaran.

Bagi yang memilih menuntun di Pura Dalem Puri upacaranya lebih besar dan upacara (l) dan (2) di atas. dengan pertama melaksanakan upacara di Pura Segara Gua Lawah dan dilanjutkan. dengan upacara ke Pura Dalem Puri. Sebelum menuju Pura
Dalem Puri terlebih dahulu mempersembahkan sesajen “Piuning” ke Pura Manik Mas, Bangun Sakti, Ulun Kulkul, Pura Gua dan Pura Banua.
Perjalanan selanjutnya dan Pura Manik Mas menuju pura Dalem Puri terlebih dahulu menyeberangi Titi Gonggang dan Batu Macepak yang terletak pada jurang sebelah barat Pura Manik Mas.
Pada kedua tempat ini (Titi Gonggang dan Batu Macepak) mempersembahkan sesajen Pejati atau Penebusan. Setelah selesai memohon Dewa Pitara di Dalem Puri dilanjutkan dengan mempersembahkan Pejati di Pura Basukihan, Padharman (bila yang bersangkutan memiliki Padharman) dan diakhiri dengan mempersembahkan Pejati di Pura Penataran Agung.

Upakara (Sesajen).
Adapun upakara atau sesajen dan sarana yang merupakan inti adalah : Banten saji Dewa Putih Kuning, Jerimpen Agung, Sesayut, Pangulapan, Pengambyan, Benang Tri Datu (tiga .warna : merah, putih, hitam) satu tukel (satu gulung),uang kepeng 225 biji yang diikatkan pada benang
tridatu. Sebuah tutup (tombak) yang diikat dengan benang tridatu dialasi l buah kelapa yang dikupas serabutnya, diisi beras, pada ujung tombak dilengkapi dengan “Sat- sat” dari janur di samping sebuah daksina palinggih dan kain sebagai Tigasana.
Penjelasan:
Jumlah dan sarana upakara (sesajen) disesuaikan dengan kemampuan (desa, kala, patra) serta petunjuk Pinandita atau Pandita.

Sumber ajaran.
Pemujaan Dewa Pitara atau Pitara yang telah suci adalah merupakan salah satu pokok ajaran agama Hindu yang mengajarkan penyembahan kepada leluhur yang telah suci atau Dewa Pitara di samping menyembah Ida Sang Hyang Widhi dan Dewa- Dewa sebagai manifestasi Nya. Pemujaan leluhur yang telah suci itu diajarkan dalam kitab suci agama Hindu dan sastra- sastranya yang dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan umat di mana agama Hindu itu berkembang. Sumber- sumber ajaran tersebut antara lain sebagai berikut:

Weda.
Itihasa dan Purana.
Negara Kertagama.
Wrhaspatitattwa.
Siwagama
Siwatattwapurana.
Purwabhumikamulan.
Puja Mamukur.
Yama Purwanatattwa.
Pitutur Leburgangsa.
Sanghyang Leburgangsa.

Demikian sedikit informasi yang bisa kami sampaikan semoga ada manfaatnya bagi kita semua.

Untuk informasi selanjut nya akan kami sampaikan kembali nanti, suksma. (006KIMSGH)

  • 19 Juni 2019
  • Dibaca: 89 Pengunjung

Artikel Lainnya

Cari Artikel